Mengenal
Garut untuk pertama kalinya di tahun 1994. Perjalanan lapang saat
kuliah semester ke-4, matakuliah Geologi Tanah. Ada beberapa tempat yang
kami kunjungi namun yang paling memberikan kesan mendalam adalah saat
menapakkan kaki di Kabupaten Garut.
Belum
lagi rombongan kami sampai ke tempat tujuan, mataku tak henti-hentinya disuguhi
keindahan alam yang luar biasa menawan. Ya….ketika itu kami meninggalkan
Bandung dan tepat memasuki Kabupaten Garut. Perbukitan menghijau di
kanan kiri jalan yang berlenggok. Lembah terapit tebing curam.
(Kini aku tahu daerah itu Jalan Bypass Bandung Garut dan Jalan Raya
Leles). Terbesit dalam benakku, ‘Garut dicipta Tuhan dengan senyuman’.
Sekitar
pukul tujuh malam, kami sampai di tempat tujuan. Dingin kota Intan akrab
menyapa kami. Suasana yang sangat tidak biasa. Penginapan yang
disediakan pihak jurusan cukup nyaman dan tertata apik. Sebuah
saung bernuansa bambu, beratap ijuk. Sederhana namun artistik
. Walaupun hanya ada dua kasur bertingkat namun kami mau untuk saling
mengalah dan akhirnya kasur kami atur untuk ngampar bersama di bawah.
Ada
cukup banyak waktu bagi kami berjalan keluar sebelum istirahat
malam. Aku dan dua teman akrabku memilih menghabiskan waktu
malam itu untuk menikmati udara malam Cipanas. Dingin menggigit tulang,
ditambah hembusan angin pegunungan.
Kami
hanya berjalan-jalan saja sambil melihat-lihat aneka oleh-oleh dan souvenir
yang dijajakan kios-kios di kanan kiri jalan. Kami berbelanja sesuai isi
kantong kami. Aku sendiri menjatuhkan pilihan pada dodol aneka
rasa. Jujur, dodol adalah makanan kesukaanku. Sebagai orang
asli Jawa Tengah makanan favoritku jenang dan ketika aku berada di Jawa Barat
aku bertemu dodol. Yang lebih aku sukai lagi dari dodol karena
kelembutannya dan tidak terlalu kenyal. Alhamdulillah.
Pagi
harinya kami melihat Gunung Guntur dari kejauhan di tempat yang agak tinggi di
kawasan Cipanas. Dosen pembimbing kami, dosen Geologi Tanah menjelaskan
karakteristik Geomorfologi Kabupaten Garut.
“Pusat
kota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 meter di atas permukaan
laut. Tipografinya sangat unik dan berkelok-kelok oleh banyaknya
perbukitan. Jajaran pegunungan mengelilingi pusat kota, yaitu Gunung Karacak
(1.838 m), Gunung Guntur (2.249 m) Gunung Papandayan (2.622
m), dan Gunung Cikuray (2.821 m), Yang terdekat dan terlihat paling jelas
itu adalag Gunung Guntur.”
Dari
penjelasan pembimbing aku terpikir betapa Garut dikelilingi oleh gunung-gunung
aktif yang setiap saat bisa bererupsi.
“Materi
vulkanik berupa breksi, lava, lahar dan tufa yang mengandung kwarsa menumpuk
pada dataran antar gunung-gunung itu. Erupsi G. Cikuray, G.
Papandayan dan G. Guntur berlangsung beberapa kali secara sporadik selama periode
Kuarter (2 juta tahun) lalu. Bahkan Gunung Guntur mengalami
erupsi gunung paling aktif di Indonesia, bahkan mengalahkan Gunung Merapi
di Jawa Tengah di tahun 1800-an.”
Ingatanku
melayang sejenak ke Gunung Merapi. Gunung berapi teraktif dan terdekat
dengan kampungku di Jawa Tengah. Saat erupsi, terlihat jelas dari jendela
kamarku. Ada kengerian membayangkannya.
Aku
bersyukur Gunung Guntur kini aman bahkan memberi berkah yang banyak untuk
nafkah orang-orang di sekitarnya. Juga menjadi sumber ilmu untuk
kami. Rombongan Field Trip.
“Jenis
tanah di Kabupaten Garut ini komplek podsolik merah kekuning-kuningan.
Podsolik kuning dan regosol merupakan mendominasi bagian selatan. Bagian
utara didominasi tanah andosol sehingga berpeluang untuk membuka usaha
sayur-mayur.”
Penjelasan
dosen disambung dengan tanya jawab serius karena kami harus menyusun laporan
field trip selengkap mungkin.
“Perjalanan
selanjutnya menuju Kawah Kamojang. Kalian harus bersiap-siap dan berkemas
menuju bis.” Dosen menginstruksikan.
“Yah…Bapak,
nggak ada acara mandi air panaskah?” tanya seorang mahasiswa bernada protes.
“Kita
disini perjalanan lapang bukan untuk berwisata. Waktu kita
terbatas.” Dan kamipun menyerah meski di dada ini menggumpal rasa kecewa.
‘Cipanas
aku akan kembali suatu saat, dengan izin Alloh’ aku membatin tanpa tahu kapan
dan benarkah aku akan kembali?
***
Alloh
SWT Maha Berkehendak. Tahun 1997 kali kedua aku melewati Garut karena panggilan
tugas mengelola pesantren di perbatasan Tasikmalaya-Garut. Meskipun
pesantren itu berada di Kabupaten Tasikmalaya tetapi jarak ke pusat kota sama
jauhnya. Ke Tasik kota 31 km dan ke Garut kota 31 km, sehingga untuk
berbelanja, kami lebih sering ke Pasar Ceplak daripada Cikarubuk.
Duabelas
tahun kemudian sejak kepindahanku dari Bogor ke Jakarta kemudian ke Priyangan
Timur, 2009. Impianku mengunjungi Cipanas baru terwujud. Betapa
bahagianya aku karena rasa cinta saat memandangi alamnya, menghirup segar
udaranya, merasakan gigitan angin dinginnya akan aku rasakan kembali.
Saat
memasuki kawasan Cipanas, mataku berkaca-kaca. Teringat lima belas tahun
yang lalu, saat aku masih gadis. Dan kini aku datang memenuhi impian dan
panggilan cintaku pada Kota Intan khususnya Cipanas. ‘Cipanas, banyak
perubahan yang kau alami.’ Tegur hatiku.
Bangunan di kanan kiri jalan sudah makin banyak. Termasuk juga
Sabda Alam yang baru diresmikan satu tahun yang lalu 9 Agustus 2008 oleh Bapak
Gubernur Ahmad Heryawan. Tak kuduga tertundanya sentuhan mata air Cipanas
tergantikan setelah 15 tahun dengan hidangan yang lebih indah dan
lengkap. Syukur dalam hatiku tak henti-hentinya kupanjatkan.
Rombongan
pengelola pesantren langsung menuju waterboom pagi menjelang siang pukul
10.00. Rasa penasaranku 15 tahun yang lalu terbayar sudah. Sebuah
taman permainan air Sabda Alam.
Kami
membeli tiket, pengunjung sudah merasa diringankan karena anak-anak di bawah
umur tidak dipungut biaya. Terasa termanjakan lagi, pengunjung
diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Tentu hal ini sangat meringankan
rogohan kantong kami.
Memasuki
lokasi, pemandangan sebuah ember raksasa menggantung di atas kolam menjadi hal
yang unik. Para pengunjung berkumpul menunggu guyuran air dari ember,
untuk kemudian menjerit bersama. Seru sekali…….
Pertama
yang menjadi sasaran kami adalah papan seluncur. Disediakan beragam ada yang
pendek, panjang, lurus dan berkelok-kelok. Ada nuansa rasa indah dalam
hati saat turun dengan kecepatan tinggi. Saat kami berombongan
meluncurpun terasa kecepatan makin bertambah karena dorongan beban di belakang
kami.
Sejak
tadi aku hanya melihat orang-orang menikmati tumpahan air. Kini
harap-harap cemas aku mengira-ngira posisi yang mungkin mendapat tumpahan air
paling banyak. Benar saja…byurr, ada rasa kaget tapi nyaman karena bertambah
kehangatan dari air yang diguyurkan. Sungguh nikmat.
Rombongan
kami juga mengajak anak-anak. Mereka bisa bermain di wahana air yang
tersedia. Kedalamannya tidak lebih dari 80 cm. Yang membuat
anak-anak terkesan adalah 18 jamur raksasa berupa payung yang meneteskan air.
Seolah menikmati tetes air hujan hangat. Sempurna sudah kebahagiaan mereka,
makin sulit untuk diajak berhenti.
Inilah
kelebihan salah satu pemandian yang menggunakan mata air hangat alami, membuat
pengunjung tidak kedinginan. Berlama-lama merendam diri pun tidak
membosankan.
Selesai
menggunakan papan seluncur, berdebar-debar di bawah waterboom, kami mencoba
silinder boom. Sementara anak-anak kami diasuh pembina asrama yang masih
muda dan jomblo. Silinder berketinggian 12 meter dengan panjang 40 meter,
memberikan pengalaman mendebarkan lebih dari papan seluncur. Saat berada
di ujung silinder kehangatan tercebur pada air hangat sungguh nyaman.
Waktu
bertamasya hanya tinggal dua puluh menit lagi. Aku bergegas meninggalkan
pemandian dan berganti pakaian. Pikirku….masih ada wahana yang belum aku
coba, arung jeram dan flying fox. Pilihanku jatuh pada flying fox.
Aku belum pernah mencoba wahana ini. Bersama sahabat karibku aku
mencobanya.
Menaiki menara berketinggian sekitar 10
meter, memakai tali pengikat. Awalnya aku takjub dengan perbukitan yang
terlihat dari ketinggian 10 meter. Sekeliling mata memandang bukit
menghijau, pepohonan didominasi vegetasi kelapa, sebagian pinus dan pohon buah.
Begitu
siap, aku segera meluncur sejauh 75 meter.
Jujur saat kecepatan makin tinggi, aku memejam mata sebelum jantungku
copot karena gerakan semu cepat dari perbukitan dan apa saja sejauh mata
memandang. Mendarat dengan selamat di ujung tali luncur, aku
bersyukur. Bahagia rasanya bisa mengalahkan rasa takut ini, bimbang bila
tali putus, ikatan lepas dan berbagai rasa takut lainnya.
Waktu
berkunjung habis sudah. Rombongan pulang menuju pesantren dengan kesan
mendalam. Meskipun ada beberapa wahana yang tak terkunjungi. Terapi
ikan dan arung jeram.
***
Terimakasih
Cipanas untuk setiap sentuhan kasih sayangmu. Kau adalah kiriman Tuhan
buat kami untuk selalu disyukuri sekaligus dipelihara. Digauli dengan
baik penuh kemuliaan akhlak dengan alam dan lingkungan. Kau sungguh
pantas untuk dicintai, saat pertama kali aku menemuimu, saat kau menyapaku dan
selamanya.
Komentar
Posting Komentar